intan_oh_intan

Minggu, 18 Mei 2008

"tiap waktu yang kita miliki saat ini, akan dipertanggung jawabkan kelak. So, gunakan waktumu sebaik mungkin.." :)

Rabu, 14 Mei 2008

thank you Allah

Ya Allah... kalau nggak ada pertolonganMu di hari-hari ku. Entah apa jadinya.

alhamdulillah, Engkau telah memberi aku kemudahan dalam segala hal.
Terima kasih, Engkau masih memberiku makan disetiap harinya, air untuk kebutuhan hidup, tempat tinggal yang layak, kasur yang empuk, dan mengizinkanku untuk menuntut ilmu.
Ya Allah... atas RahmatMu KAU titipkan aku, pada kedua orang tua yang tidak pernah berhenti mendoakanku.
Terima kasih Ya Allah... buat keselamatan, kesehatan, rezeki, umur, dan segalanya yang mungkin aku belum sadar untuk mensyukurinya.

Selasa, 22 Januari 2008

Rumput Tetangga Lebih Hijau

Rumput Tetangga Lebih Hijau

Ibu Dini yang tinggal di blok A, anak-anaknya berhasil semua. Keluarga di sebelah rumah, kayaknya harmoniiisss banget. Manda teman satu angkatan, prestasi akademiknya selalu terdepan. Enaknya si Tia tetangga depan rumah, bolak-balik liburan ke luar negri. Ayahnya Bayu, sekarang sudah menjadi anggota dewan. Hmm.. Tio temanku, beruntung punya orang tua yang perhatian sekali sama dia. Mitha sahabatku, disayang sekali sama kakaknya. Terus si …

Wah.. kayaknya gak ada habisnya, menyebutkan satu-persatu keindahan rumput tetangga yang lebih hijau itu. Kayaknya ada aja hal-hal yang membuat kita sedikit atau banyak, bikin iri. Apalagi, setelah kita melihat ‘kehijauan’ rumput tetangga. Kemudian, kita tengok pekarangan kita. Kok, kayaknya gersang banget. Beda sama sebelah-sebelah rumah.

Pengen banget, kita ambil rumputnya atau bahkan minta tukar dengan pekarangan kita yang ‘gersang itu’. Kenapa bisa beda ya ? Padahal luas halamannya sama, beli ‘rumput’nya ditempat yang sama, dan pupuknya juga sama.

Mungkin yang membedakannya adalah cara merawatnya. Kalau kita mau merawat pekarangan kita dengan baik, hasilnya mungkin akan lebih hijau dari pekarangan tetangga kita yang sudah hijau itu. Coba satu-satu, mulai dibenahi cara merawatnya. Bisa mulai dengan …

Bersyukur

Bersyukur sama Tuhan karena kita sudah diberi ‘pekarangan’ utama. Pekarangan yang berisi kedua orang tua yang selalu berdoa buat kita, saudara kandung, suami, istri, serta anak-anak sebagai karunia yang tak ternilai.

Kasih Sayang

Coba rawat ‘rumput-rumput’ itu dengan kasih sayang. Sudah berapa kali kita mengucapkan “selamat tidur” kepada orang tua kita ketika malam menjelang ? dalam sebulan ini, sudah berapa kali kita memuji “kamu cantik” kepada istri kita ? dalam sebulan ini pula, sudah berapa kali kita bilang “aku sayang kamu” kepada suami kita ? dan hal-hal lain yang sederhana namun terlewat.

Bersabar

Tidak mudah memang membuat pekarangan dengan hamparan rumput hijau, wangi bunga dimana-mana, dan pepohonan yang rimbun. Tapi bisa dilakukan. Ada pepatah “sabar itu buahnya manis”. Atau “jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu”. Kedua wejangan tadi bisa dipercaya. Bersabarlah, Tuhan akan memberikan pertolongan dalam merawat ‘pekarangan’ kita. Agar, buah-buahan yang hendak tumbuh dipekarangan kita itu manis-manis dan membawa manfaat buat kita kelak. Amin.

Tiga hal diatas adalah cara yang dilihat oleh saya seorang gadis berusia 23 tahun yang masih terus mencoba ‘menghijaukan’ pekarangan sendiri. Agar tidak terus-menerus melongok keindahan pekarangan lain. Saya yakin anda yang membaca ini, lebih punya banyak cara dalam ‘menghijaukan’. Kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi? Semoga cara ‘menghijaukan’ pekarangan kita, bisa menjadi inspirasi bagi pekarangan lain. Amin.

Jatibening, 21-1-2008. 23:35

Selasa, 15 Januari 2008

Si Lemot


Si Lemot


Tuhan, kenapa tidak semua orang

tercipta seperti Einstein

Agar tidak ada lagi julukan “Si Lemot”

yang dilemparkan padanya

Melekat jelas dalam ingatan

Ia tersenyum menutupi pedih

Ketika sebagian mereka

Menertawakannya

Malaikat-malaikatMu

sering menyaksikan

“Si Lemot” menghapus air matanya

Sebelum tidur

Tuhan, apa yang harus kubisikan padanya ?

Agar ia menatap mentari esok dengan senyum

Dan percaya bahwa

‘life is beautiful’

22:13

12-januari-2008

Senin, 31 Desember 2007

1 Januari 2008, di Bogor

11.10 pagi, masih waktu bogor.

Mumpung masih dibogor, dirumah oom Koko'. Nge-net 'geratong' he he he
Disini, nginep gak sendirian. Berdua sama Ara, sepupu dari Bandung. 'Nyokap' sih pesen gini sebelum berangkat ke bogor...
"bantu-bantu mba, kalau nginep dirumah orang!" he he he
Eh, bangunnya aja jam 9. Udah ada sarapan yang disiapin sama tante Salma. huahe he he Makasih ya tante...

Sekarang Ara lagi baca tabloit sambil ngemil dan aku sendiri lagi sibuk posting blog. Oom-tante, lagi pada pergi. Wuidiihh... yang tadinya kita punya rencana jadi "pembantu 3 hari". Jadi "Ratu 3 hari" kayaknya. he he he Gak sopan!

Mudah-mudahan aja, oom-tante gak kapok kalau kita inepin lagi. hihihi Makasih ya tante Salma-oom Koko'. Semoga kita semua tetap dalam keberkahan serta lindunganNya. Amin.

Berangkat kemarin dari Jatibening, sekitar jam 11.30 siang. Terus naik bis jurusan Bogor. Hmmm... jalanannya sih lancar, tapi nge-tem nya di Cawang memakan waktu. Turun di Tanah Baru, setelah itu naik angkot no. 17 turun di Pasar Tanah Baru. Yup, jalan dikit akhirnya sampai juga deh.

Tanpa basa-basi, langsung menuju kesebuah LapTop. Apalagi kalau bukan nge-net. hi hi hi Soalnya, dari kemaren kita diiming-imingi nge-net gratis sama oom Koko' kalau nginep di Bogor. Bukan cuma 24 jam, sampai ganti tanggal juga hayuuu. Ada-ada aja ulah oom yang satu ini, boleh juga usahanya. Mau kenalan sama oom ku yang satu ini? Kunjungi Friendsternya di "koko_kir@yahoo.com" hua he he Makasih ya oom..

nEw yEar, New Me

22.40 waktu bogor

tAhun bAru...
nggak jauh dari kembang api, jalanan rame, acara tv yang "number one", bunyi terompet sana-sini, tempat wisata penuh semua, cafe2 memasang spanduk "Rayakan tahun baru bersama kami", dan lain2 yang kesemuanya itu sama dari tahun-ketahun


aKu bAru...
sedih... karena setiap tahunnya banyak target yang meleset. Entah karena kurang perencanaan atau kurang usaha... hmm.. bisa jadi PR 1 jam kedepan.

bersyukur...karena ditiap tahunnya aku masih memiliki "dunia ku". Dunia yang berisi kedua orangtua yang tidak pernah berhenti mendoakan, adik yang sebenernya perhatian, sahabat-sahabat yang nerima segala kekurangan, oom-tante-sepupu yang peduli, dan orang yang bilang " you are my everything" ditahun ini. Alhamdulillah...!

sadar...karena masih banyak ngecewain sana-sini, harus banyak belajar lagi, kalau waktu hidup ini singkat, akan ibadah yang masih banyak bolongnya, harus bisa mulai menghargai diri sendiri, dan sadar kalau banyak hal-hal yang belum disadari dari tahun-ketahun.

sedih...bersyukur...sadar... buatku modal melangkah didalam detik2 yang mengiringi tahun esok. Untuk bisa menjadi "new me" ditiap tahunnya dan selalu berharap agar 'modal' itu bertambah setiap tahun. Tentu saja dengan ijinNya, memberikan ku umur.

hAppY new Year, hapPy nEw You

Senin, 01 Oktober 2007

Bakwan Pertamaku

Bakwan Pertamaku

(20 sept 2007)

Sore hari ini, memang agak berbeda dari sore-sore sebelumnya. Dapurku tampak lebih ramai. Ramai dengan irisan wortel yang berbentuk seperti batang korek api, udang yang sudah dicincang halus, dan sewadah plastik tepung terigu yang sudah dicampur bumbu-bumbu yang tertera di resep sebuah koran khusus masakan. Tak lupa pula irisan sosis yang sudah dipotong seperti wortel. Sebagai bahan isian plus bahan eksperimen dari gue.. hehehehe

Setelah semua bahan isian dicampur kedalam tepung, jangan lupa masukan santan agar terasa lebih gurih. Panaskan minyak untuk menggoreng. Ketika minyak mulai dipanaskan, seketika itu pula terbayag dibenak ini…

“ Wuihh.. pasti enak nih, buka puasa pake bakwan buatan gue!”

“Hmm… dicetak pake apa ya…?”

“Oh iya, pakai sendok sayur aja. Mama khan, biasa masak bakwan dicetak begitu”

“Sendok sayurnya direndam dulu di minyak yang sedang dipanaskan”

“Kemudian ambil adonan sebanyak cekungan sendok tersebut”

“Masukan kedalam wajan. Biarkan beberapa saat, adonan akan terlelpas dengan sendirinya dari cetakan.”

2 menit kemudian…

“Lho, kok lengket sih? Nggak mau kelepas? Kok jadi gini…?”ujarku pelan sambil berusaha melepaskan adonan bakwan itu dengan bantuan sendok lain.

Sesaat menghela nafas.

“Yaudah lah, dicetak ala tukang gorengan aja” itu lho.. ambil adonan secukupnya. Sesendok sayur misalnya. Kemudian dituang ke pinggir wajan. Sambil disiram-siram permukaan bakwannya dengan minyak. Adonan akan lepas dari pinggiran wajan dengan sendirinya.

Waktu terus bergulir

“Lama ya.. matengnya… ternyata goreng bakwan lumaya lama.” Gerutuku dalam hati.

“Nah… ini dia akhirnya matang juga. Tiga bakwan pertamaku. Supaya minyaknya tidak terlalu banyak. Bakwan yang sudah ditiriskan, ditaruh diatas koran atau kertas. Biar minyak meresap ko Koran tersebut” otakku kini memerintahkan ku untuk mencari Koran-koran yang akan digunakan. Tak lupa pula, aku masih melanjutkan menggoreng adonan yang tersisa.

“ Lho. Kok bakwannya luarnya keras ya? dalamnya juga nggak matang ? duuuhhh.. gimana nih..?” rasa kecewa satu persatu mulai mengisi raga ini.

“Mana bentar lagi mau buka. Sudah jam setengah enam, bakwannya masih begini! Kalau urusan rasa sih, dijamin enak.” Aku terus memperhatikan bakwan ku dengan kecewa yang mulai diselimuti kesedihan.

Yeah.. soal rasa memang aku berani jamin karena sedari awal membuat sudah dicicipinya beberapa kali. Sore inilah yang kuanggap tepat untuk membuat bakwan karena sudah beberapa hari ini aku tidak berpuasa.

“ Adduuuhh… gimana nih…? Semua bumbu, dan cara sudah sesuai dengan resep kok…” belum sempat aku berhenti mengeluh. Tiba-tiba dari arah pintu rumah…

“Assalamu’alaikum..” ucapan salam dari mama, yang menandakan ia sudah pulang dari tempat kerjanya.

“Waduh.. bau apa ini..? kok enak sekali…” ucap mama lagi, sambil melangkah kearah dapur.

“Ma… bakwanku nggak enak.. masa luarnya keras, dalemnya nggak matang. Padahal apinya kecil ma.. Terus lengket lagi..” laporku kepada mama. Sebenarnya kalau dilihat lebih mirip aduan seorang anak kecil kepada mamanya.

“Coba sini mama liat. Enak kok.. “ sambil mengambil alih tugas ku.

Gila ! nyokap gue ‘welldone banget. Gue tau banget, padahal bakwan buatan gue gak ada bagus-bagusnya. Tapi, ia menunjukan sikap sebagai seorang ibu. Sikap yang harus dimiliki sebagaimana mestinya. Dan ia memilikinya…

Diam- diam kuperhatikan ibuku yang sedang menggoreng bakwan lekat-lekat. Seakan-akan ia melupakan rasa letihnya sepulang dari kantor. Tanpa sadar hati ini meleleh dibuatnya.

Tanpa sadar pula, aku kini sudah berada asyik didepan TV menunggu azan maghrib. Ibuku pulalah yang menyelesaikan bakwan buatanku, sampai habis. Hehehehe

Bukan karena bakwan pertamaku. Tapi karena sikap ibuku yang membuat aku teringat akan hari ini. I love you mom…