Bakwan Pertamaku
Bakwan Pertamaku
(20 sept 2007)
Sore hari ini, memang agak berbeda dari sore-sore sebelumnya. Dapurku tampak lebih ramai. Ramai dengan irisan wortel yang berbentuk seperti batang korek api, udang yang sudah dicincang halus, dan sewadah plastik tepung terigu yang sudah dicampur bumbu-bumbu yang tertera di resep sebuah koran khusus masakan. Tak lupa pula irisan sosis yang sudah dipotong seperti wortel. Sebagai bahan isian plus bahan eksperimen dari gue.. hehehehe
Setelah semua bahan isian dicampur kedalam tepung, jangan lupa masukan santan agar terasa lebih gurih. Panaskan minyak untuk menggoreng. Ketika minyak mulai dipanaskan, seketika itu pula terbayag dibenak ini…
“ Wuihh.. pasti enak nih, buka puasa pake bakwan buatan gue!”
“Hmm… dicetak pake apa ya…?”
“Oh iya, pakai sendok sayur aja. Mama khan, biasa masak bakwan dicetak begitu”
“Sendok sayurnya direndam dulu di minyak yang sedang dipanaskan”
“Kemudian ambil adonan sebanyak cekungan sendok tersebut”
“Masukan kedalam wajan. Biarkan beberapa saat, adonan akan terlelpas dengan sendirinya dari cetakan.”
2 menit kemudian…
“Lho, kok lengket sih? Nggak mau kelepas? Kok jadi gini…?”ujarku pelan sambil berusaha melepaskan adonan bakwan itu dengan bantuan sendok lain.
Sesaat menghela nafas.
“Yaudah lah, dicetak ala tukang gorengan aja” itu lho.. ambil adonan secukupnya. Sesendok sayur misalnya. Kemudian dituang ke pinggir wajan. Sambil disiram-siram permukaan bakwannya dengan minyak. Adonan akan lepas dari pinggiran wajan dengan sendirinya.
Waktu terus bergulir
“Lama ya.. matengnya… ternyata goreng bakwan lumaya lama.” Gerutuku dalam hati.
“Nah… ini dia akhirnya matang juga. Tiga bakwan pertamaku. Supaya minyaknya tidak terlalu banyak. Bakwan yang sudah ditiriskan, ditaruh diatas koran atau kertas. Biar minyak meresap ko Koran tersebut” otakku kini memerintahkan ku untuk mencari Koran-koran yang akan digunakan. Tak lupa pula, aku masih melanjutkan menggoreng adonan yang tersisa.
“ Lho. Kok bakwannya luarnya keras ya? dalamnya juga nggak matang ? duuuhhh.. gimana nih..?” rasa kecewa satu persatu mulai mengisi raga ini.
“Mana bentar lagi mau buka. Sudah jam setengah enam, bakwannya masih begini! Kalau urusan rasa sih, dijamin enak.” Aku terus memperhatikan bakwan ku dengan kecewa yang mulai diselimuti kesedihan.
Yeah.. soal rasa memang aku berani jamin karena sedari awal membuat sudah dicicipinya beberapa kali. Sore inilah yang kuanggap tepat untuk membuat bakwan karena sudah beberapa hari ini aku tidak berpuasa.
“ Adduuuhh… gimana nih…? Semua bumbu, dan cara sudah sesuai dengan resep kok…” belum sempat aku berhenti mengeluh. Tiba-tiba dari arah pintu rumah…
“Assalamu’alaikum..” ucapan salam dari mama, yang menandakan ia sudah pulang dari tempat kerjanya.
“Waduh.. bau apa ini..? kok enak sekali…” ucap mama lagi, sambil melangkah kearah dapur.
“Ma… bakwanku nggak enak.. masa luarnya keras, dalemnya nggak matang. Padahal apinya kecil ma.. Terus lengket lagi..” laporku kepada mama. Sebenarnya kalau dilihat lebih mirip aduan seorang anak kecil kepada mamanya.
“Coba sini mama liat. Enak kok.. “ sambil mengambil alih tugas ku.
Gila ! nyokap gue ‘welldone banget. Gue tau banget, padahal bakwan buatan gue gak ada bagus-bagusnya. Tapi, ia menunjukan sikap sebagai seorang ibu. Sikap yang harus dimiliki sebagaimana mestinya. Dan ia memilikinya…
Diam- diam kuperhatikan ibuku yang sedang menggoreng bakwan lekat-lekat. Seakan-akan ia melupakan rasa letihnya sepulang dari kantor. Tanpa sadar hati ini meleleh dibuatnya.
Tanpa sadar pula, aku kini sudah berada asyik didepan TV menunggu azan maghrib. Ibuku pulalah yang menyelesaikan bakwan buatanku, sampai habis. Hehehehe
Bukan karena bakwan pertamaku. Tapi karena sikap ibuku yang membuat aku teringat akan hari ini. I love you mom…







