intan_oh_intan

Selasa, 22 Januari 2008

Rumput Tetangga Lebih Hijau

Rumput Tetangga Lebih Hijau

Ibu Dini yang tinggal di blok A, anak-anaknya berhasil semua. Keluarga di sebelah rumah, kayaknya harmoniiisss banget. Manda teman satu angkatan, prestasi akademiknya selalu terdepan. Enaknya si Tia tetangga depan rumah, bolak-balik liburan ke luar negri. Ayahnya Bayu, sekarang sudah menjadi anggota dewan. Hmm.. Tio temanku, beruntung punya orang tua yang perhatian sekali sama dia. Mitha sahabatku, disayang sekali sama kakaknya. Terus si …

Wah.. kayaknya gak ada habisnya, menyebutkan satu-persatu keindahan rumput tetangga yang lebih hijau itu. Kayaknya ada aja hal-hal yang membuat kita sedikit atau banyak, bikin iri. Apalagi, setelah kita melihat ‘kehijauan’ rumput tetangga. Kemudian, kita tengok pekarangan kita. Kok, kayaknya gersang banget. Beda sama sebelah-sebelah rumah.

Pengen banget, kita ambil rumputnya atau bahkan minta tukar dengan pekarangan kita yang ‘gersang itu’. Kenapa bisa beda ya ? Padahal luas halamannya sama, beli ‘rumput’nya ditempat yang sama, dan pupuknya juga sama.

Mungkin yang membedakannya adalah cara merawatnya. Kalau kita mau merawat pekarangan kita dengan baik, hasilnya mungkin akan lebih hijau dari pekarangan tetangga kita yang sudah hijau itu. Coba satu-satu, mulai dibenahi cara merawatnya. Bisa mulai dengan …

Bersyukur

Bersyukur sama Tuhan karena kita sudah diberi ‘pekarangan’ utama. Pekarangan yang berisi kedua orang tua yang selalu berdoa buat kita, saudara kandung, suami, istri, serta anak-anak sebagai karunia yang tak ternilai.

Kasih Sayang

Coba rawat ‘rumput-rumput’ itu dengan kasih sayang. Sudah berapa kali kita mengucapkan “selamat tidur” kepada orang tua kita ketika malam menjelang ? dalam sebulan ini, sudah berapa kali kita memuji “kamu cantik” kepada istri kita ? dalam sebulan ini pula, sudah berapa kali kita bilang “aku sayang kamu” kepada suami kita ? dan hal-hal lain yang sederhana namun terlewat.

Bersabar

Tidak mudah memang membuat pekarangan dengan hamparan rumput hijau, wangi bunga dimana-mana, dan pepohonan yang rimbun. Tapi bisa dilakukan. Ada pepatah “sabar itu buahnya manis”. Atau “jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu”. Kedua wejangan tadi bisa dipercaya. Bersabarlah, Tuhan akan memberikan pertolongan dalam merawat ‘pekarangan’ kita. Agar, buah-buahan yang hendak tumbuh dipekarangan kita itu manis-manis dan membawa manfaat buat kita kelak. Amin.

Tiga hal diatas adalah cara yang dilihat oleh saya seorang gadis berusia 23 tahun yang masih terus mencoba ‘menghijaukan’ pekarangan sendiri. Agar tidak terus-menerus melongok keindahan pekarangan lain. Saya yakin anda yang membaca ini, lebih punya banyak cara dalam ‘menghijaukan’. Kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi? Semoga cara ‘menghijaukan’ pekarangan kita, bisa menjadi inspirasi bagi pekarangan lain. Amin.

Jatibening, 21-1-2008. 23:35

Selasa, 15 Januari 2008

Si Lemot


Si Lemot


Tuhan, kenapa tidak semua orang

tercipta seperti Einstein

Agar tidak ada lagi julukan “Si Lemot”

yang dilemparkan padanya

Melekat jelas dalam ingatan

Ia tersenyum menutupi pedih

Ketika sebagian mereka

Menertawakannya

Malaikat-malaikatMu

sering menyaksikan

“Si Lemot” menghapus air matanya

Sebelum tidur

Tuhan, apa yang harus kubisikan padanya ?

Agar ia menatap mentari esok dengan senyum

Dan percaya bahwa

‘life is beautiful’

22:13

12-januari-2008